film media propaganda barat mencitrakan buruk islam

Film adalah salah satu bentuk media komunikasi massa dan merupakan pernyataan budaya yang berada dalam bingkai berbagai seni. Film mengkomunikasikan pesan dari pembuat film (film maker) kepada penonton (audience). Kehadiran film seiring dengan perkembangan masyarakat urban dan industri oleh karenanya film bisa menjadi bagian dari media massa yang modern dan budaya massa yang populer saat ini.

Menurut Undang-Undang tentang Perfilman, nomor 8 tahun 1992 (8/1992), tanggal 30 Maret 1992 (Jakarta), film didefinisikan sebagai:

“Karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita, video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan/atau lainnya.”

Pada akhir abad ke sembilan belas, film muncul dan berperan sebagai sarana baru menyebarkan hiburan, menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak dan program lainnya kepada masyarakat umum.[1] Namun jika ditinjau lebih dalam, film seringkali dibuat dengan motif kebutuhan ‘tersembunyi’ dibaliknya. Sehingga, pemanfaatan film sebagai alat propaganda menjadi tonggak sejarah film yang sangat penting.

Film sebagai media untuk propaganda

Kata propaganda berasal dari kata dasar “propagate” yang berarti penyebaran, memperbanyak, atau mengembangbiakkan.[2]

Menurut Adityawan, propaganda adalah suatu istilah yang mengandung dua hal mendasar[3]: Pertama, proses penyampaian pesan biasanya berhubungan dengan situasi tertentu. Misalnya dalam kondisi perang, dimana suatu negara yang terlibat peperangan akan mengerahkan upaya untuk mempengaruhi mentalitas psikologis rakyat dan tentaranya sendiri, disisi lain sekaligus untuk melemahkan mental rakyat dan tentara pihak musuh. Kedua, proses penyampaian pesannya yang memiliki kecenderungan manipulatif dan tidak “sebenarnya”.

Film merupakan medium yang sangat unik untuk mengkomunikasikan pesan, karena film dapat mereproduksi gambar, gerakan, dan suara hampir seperti aslinya.[4] Oleh karena film memiliki kemampuan menipulatif untuk menciptakan ilusi dalam suatu kehidupan dan realitas sebenarnya. Kemampuan itu membuat pihak-pihak tertentu memanfaatkan film sebagai alat untuk mengarahkan kesadaran penontonnya.

Penggunaan film sebagai media propaganda terkait dengan upaya pencapaian tujuan pihak tertentu di masyarakat. Alasannya karena film memiliki jangkauan, realisme, pengaruh emosional dan popularitas yang hebat[5]. Dalam aspek jangkauan, film mampu menjangkau jutaan (bahkan puluhan juta) audiens didunia dalam waktu yang sangat singkat. Disamping itu, film juga memiliki kemampuan untuk memanipulasi realitas (kenyataan) yang sebenarnya dalam bentuk efek-efek videografi tanpa kehilangan kredibilitasnya.

McQuail (1994:14) mengatakan bahwa ada semacam aneka pengaruh yang menyatu dan mendorong kecenderungan sejarah film menuju ke penerapannya yang bersifat didaktik-propagandis, atau dengan kata lain bersifat manipulatif.[6] Mungkin karena pada dasarnya film memang mudah dipengaruhi oleh tujuan yang manipulatif. Sehingga film memiliki efektifitas yang tinggi jika digunakan sebagai media propaganda.

Propaganda Barat melalui film vs. Pencitraan Islam

Menurut para pengamat, perseteruan antara Barat dan Islam merupakan sebuah keniscayaan yang terbukti terjadi. John L. Esposito mengatakan bahwa Islam merupakan ancaman berikutnya bagi kepentingan Barat setelah keruntuhan Komunisme di Rusia dalam Cold war[7]. Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam di masa mendatang membuat Barat melakukan apa saja demi melemahkan mental umat Islam, menciptakan keragu-raguan dihati mereka, serta menyuntikkan pemikiran-pemikiran Barat yang menyimpang.

Kejadian 9/11 yang sering dianggap sebagai pemicu konfrontasi Barat melawan Islam sebenarnya hanyalah sebuah timing yang ‘tepat’ bagi Barat untuk memproklamirkan kebencian mereka terhadap Islam sejak puluhan tahun sebelumnya.

Salah satu upaya Barat untuk mengalahkan Islam adalah dengan cara mempropagan-dakan pencitraan buruk terhadap Islam dan etnis Arab melalui film-film yang mereka produksi di Hollywood. Menurut penelitian disertasi Jack Shaheen, yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Reel Bad Arabs mengatakan bahwa Hollywood telah memproduksi lebih dari 900 judul film sejak tahun 1896 hingga sekarang yang mayoritas mendistorsi gambaran tentang bangsa Arab.[8] Dalam film-film itu digambarkan bahwa orang-orang Arab adalah orang yang suka main perempuan, kaya tapi bodoh, sadis dan pemarah, teroris, fundamentalis, dan masih banyak lagi gambaran negatif lainnya. Beberapa komentar yang dikutip dari buku tersebut sebagai berikut:

“Mereka (Arab) semua terlihat sama bagi saya,” kata pemeran pahlawan Amerika dalam film The Sheik Step Out (1937).

“Semua orang Arab terlihat sama bagi saya,” kata seorang pemeran tokoh protagonis pada film Command (1968).

Hingga puluhan tahun berlalu tetap saja tidak ada perubahan tentang bagaimana orang-orang Arab digambarkan di Barat. Seorang Duta Besar AS ‘bergurau’ dalam film Hostage (1986), “Saya tidak bisa membedakan antara orang Arab yang satu dengan lainnya. Semua terbungkus dalam lembaran mereka. Semua terlihat sama bagi saya”. Maksudnya, dalam film-film Hollywood itu mereka melihat bahwa bangsa Arab semuanya dianggap sama: buruk.

Stereotype yang digambarkan dalam film-film Hollywood tersebut adalah contoh nyata penggunaan film sebagai media propaganda Barat untuk mencitrakan buruk Arab, sekaligus Islam. Karena keduanya (Arab dan Islam) saling erat terkait. Besarnya jumlah film-film itu, ditambah dengan konsistensi Barat selama 116 tahun itu benar-benar alat yang efektif dan terbukti berhasil mewajah-burukkan Arab dan Islam di mata dunia. Film The Innocence of Muslims bukanlah hal baru bagi Barat untuk mewajah-burukkan Islam. Durasinya yang hanya belasan menit dan penggarapan yang buruk dari film ini akan mudah bagi penonton untuk menolak isinya. Justru akan lebih berat bagi umat Islam untuk merespon film-film Hollywood yang sengaja mencitrakan buruk Islam dan para mujahid dengan pendekatan komedi dan pornografi, seperti dalam salah satu film yang baru-baru ini muncul di bioskop-bioskop diseluruh dunia[9].

Dengan kata lain, film sudah lama menjadi alat Barat dalam mengobarkan perang pemikiran (ghazwul fikr) terhadap kaum muslimin. Mereka masuk melalui media-media yang sengaja ditaruh didalam rumah-rumah umat Islam. Dan umat Islam sendiri sering tidak menyadari akan hal ini sehingga hampir disetiap lapisan umat terkena pengaruhnya.

Menurut Abu Ridha, ghazwul fikri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari metode perang.[10] Sehingga didalamnya sangat memungkinkan adanya upaya untuk melakukan tasywih, yaitu gerakan yang bertujuan menghilangkan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya sendiri. Tidak sedikit kaum muslimin yang kemudian merasa ‘jijik’, atau minimal membenarkan gambaran-gambaran negatif itu setelah bertubi-tubi mengkonsumsi film-film Barat yang kini begitu mudahnya diakses lewat televisi, VCD/DVD dan bioskop.

Oleh karenanya, bukan lagi saatnya kini umat Islam menjadi audiens yang pasif dalam mengkonsumsi media-media Barat, khususnya film. Duduk, diam, dan menikmati setiap adegan seru yang ada didalamnya. Namun sikap yang tepat adalah terlebih dulu kita memasang “kecurigaan” terhadap apapun yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam melalui film-filmnya. Dengan cara itu, kita akan lebih peka membaca setiap adegan, karakter, tokoh, dialog dan unsur-unsur cinematografi lainnya yang direpresentasikan dalam film. Saat itulah kita sudah menjadi audiens aktif yang kritis

Read more http://www.undergroundtauhid.com/film-media-propaganda-barat-mencitrakan-buruk-islam/

tinggal kan pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s